Langsung ke konten utama

Tugas Akhir Seni Budaya SMA Kelas X



MANDANGIN




Narator: Aulia Karima

Mandangin: Ganjar Abdillah A.

Nyai Rangkas: Yuni Ermaliza

Sangkajang: M. Aldika Biyanto

Tuman: Muslih Hakim

Dewa Angin (Suara) : I Putu Gede Ardana

Nenek Kiap: Stacia Dorothy T.

Kirana: Karina Garnovelly K.

Perompak: I Putu Gede Ardana

Bawahan Tuman: I Putu Gede Ardana, M. Aldika Biyanto

Warga 1: Maya Kurnia Insani

Warga 2: Monika Chandra

Warga 3: Audya Pratiwi P.













X.6 SMAN 2 TANGERANG SELATAN
SCENE 1

Pada jaman dahulu di hutan tak jauh dari Muara Sungai Mandahan, hiduplah sepasang suami istri yaitu Nyai Rangkas dan Sangkajang. Namun, walaupun mereka sudah lama menikah,mereka belum dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari…

Sangkajang: (baru pulang berburu) “Aku pulang,Dinda.”

Nyai Rangkas: “Suamiku, Kakanda!”

Sangkajang: “Ada apa gerangan, Adindaku?”

Nyai Rangkas: “Tadi Dinda bermimpi akan mendapatkan keturunan yang dititiskan oleh Dewa Angin.”

Sangkajang: “Benarkah itu,Dinda?”

Nyai Rangkas: “Ya,benar,Kanda!”

Sangkajang: “Syukurlah!Akhirnya kita bisa mempunyai keturunan juga!”

Nyai Rangkas: “Tapi…dinda harus bertapa di sebuah batu besar di tepi Sungai Mandahan selama Sembilan hari Sembilan malam.”

Sangkajang: “Dinda, bertapa itu sulit, apalagi Dinda seorang wanita. Sembilan hari Sembilan malam pula!”

Nyai Rangkas: “Dinda akan baik-baik saja Kanda.Percayakan pada Dinda.”

Sangkajang: “Tidak, Dinda. Kanda takkan membiarkanmu pergi. Itu berbahaya.”

Nyai Rangkas: “Tapi kanda…”

Sangkajang: “Sudahlah Dinda, aku ingin beristirahat. Lelah sekali sehabis berburu.”

Nyai Rangkas: “Baiklah, Kanda.”

Ketika suaminya itu sudah tertidur, Nyai Rangkas pergi diam-diam menuju tepi Sungai Mandahan untuk mencari sebuah batu besar.

Nyai Rangkas: “Ini dia batunya! Persis dalam mimpiku!”

Suara Dewa: “Nyai Rangkas.”

Nyai Rangkas: “Apa?Siapa itu?”

Suara Dewa: “Aku adalah Dewa Angin. Nyai Rangkas, jika kau ingin memiliki anak dari titisanku, lakukanlah ritual pertapaan di batu besar itu selama Sembilan hari Sembilan malam, dengan posisi duduk menghadap arah matahari terbit.”

Nyai Rangkas: “Kalau begitu, mimpiku itu benar?Ba,baiklah dewa.Aku akan bertapa sesuai yang kau perintahkan.”

Nyai Rangkas bertapa di batu besar itu

SCENE 2

Sementara itu, Sangkajang yang ditinggalkan Nyai Rangkas panik karena tidak menemukan istrinya dimanapun.

Sangkajang: “Dinda, Dinda! Dimana kamu, Dinda?Jangan-jangan…dia pergi bertapa di tepi Sungai Mandahan karena mimpinya itu?”

Sangkajang pun pergi ke hutan dan mencari istrinya. Namun Sangkajang tidak menemukannya dan putus asa. Dia berjalan tanpa arah hingga menemukan sebuah rawa.

Sangkajang: “Aku tidak bisa menemukannya dimanapun!Dimanakah gerangan istriku?”

Sangkajang duduk ditepi rawa, hingga dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.

Sangkajang: “Dinda?”

Perompak: “Serahkan hartamu sekarang juga!”

Sangkajang: “Tapi aku tidak membawa harta apapun!”

Perompak: “AH!Tidak usah banyak bicara!Nyawa?Atau Harta?”

Sangkajang: “Sudah kukatakan aku tidak membawa harta apapun!”

Perompak: “AH banyak bicara kau…”

*Berantem Ala Matrix*

Sangkajang menghindari serangan perompak itu dengan mudahnya, namun, karena tanah yang licin, Sangkajang pun terpeleset dan jatuh.

Sangkajang: “AH!”

Perompak: “HAHAHA betapa memalukan!”

Sangkajang: “Gawat…”

Perompak menghunuskan pedangnya pada Sangkajang yang tidak siap menghindar. Setelah itu, dia memeriksa baju Sangkajang dan tidak menemukan harta apapun.

Perompak: “Sial!Tidak ada harta apapun!”

Sangkajang: “Bukannya sudah kukatakan?”

Perompak: *menendang tubuh Sangkajang* “Diam kau!Mati dan membusuklah disini!”

Sang Perompak pun pergi dengan tangan hampa

Sangkajang: “Uhh…Maafkan Kanda,Dinda. Sepertinya Kanda tidak bisa menemani Dinda untuk selamanya…”

Sangkajang pun meninggal di tengah hutan yang sepi itu.

SCENE 3

Hari demi hari berlalu, akhirnya Nyai Rangkas berhasil melakukan ritual pertapaannya. Tiba-tiba langit tampak bercahaya.

Suara Dewa: “Nyai Rangkas, sekarang kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tugasmu adalah menjaga titisanku itu dengan baik, karena suatu saat Ia akan menjadi pembawa kedamaian bagi sebuah desa yang sedang dalam kekacauan.”

Nyai Rangkas: “Baik Dewa,aku akan menjaga anak yang kukandung ini dengan baik.”

Setelah itu, Nyai Rangkas kembali menyusuri sungai dan kembali kerumahnya untuk memberi kejutan pada suaminya.

Nyai Rangkas: “Kanda…Kanda…!Dimana Kanda berada?Dinda memiliki kejutan untuk untuk Kanda…!”

Nyai Rangkas mencari-cari Sangkajang di sekeliling rumah mereka

Namun, karena tidak menemukan Sangkajang dimanapun, Nyai Rangkas pergi ke hutan untuk mencari suaminya.

Nyai Rangkas memasuki hutan dan melewati rawa dimana suaminya dibunuh oleh perompak.Nyai Rangkas tersandung sebuah kayu sampai terjatuh

Nyai Rangkas: “Aduh…ah, apa ini?Ini…apa?Ah…ta—tangan?”

Nyai Rangkas membuka dedaunan yang menutupi kelanjutan dari tangan itu, dan dia terkejut, yang dia lihat adalah suaminya yang sudah meninggal bersimbah darah

Nyai Rangkas: *menangis* “Ka—Kanda? Kanda! Oh Dewa, apa yang terjadi dengan suamiku?Kenapa ini terjadi, Dewa?!Kenapa harus suamiku?!”

SCENE 4

Karena tak kuasa menahan kesedihan, Nyai Rangkas pun pingsan disamping jenazah suaminya. Ketika sadar keesokan harinya, Nyai Rangkas sudah berada di sebuah gua.

Nyai Rangkas: “Uuh..Dimana ini?Apa yang terjadi?”

Tiba-tiba datang seorang nenek membawa segelas air

Nenek Kiap: “Harap Nyai tidak bergerak dulu karena badan Nyai masih lemah. Sebaiknya Nyai minum air ini dulu.”

Nyai Rangkas: “Nenek siapa?Saya dimana?”

Nenek Kiap: “Nenek ditugaskan oleh Dewa Angin untuk menjaga Nyai dan bayi kandungan Nyai. Nama nenek adalah Kiap.”

Nyai Rangkas: “Aku…Suamiku—Ah,aku menyesal telah meninggalkannya demi keegoisanku!”

Nenek Kiap mengelus punggung Nyai Rangkas, mencoba menghiburnya.

Nenek Kiap: “Sudahlah, Nyai. Jangan terlalu memikirkan kepergian Suamimu. Itu sudah menjadi takdirnya.”

Nyai Rangkas: “Tapi Nek!Aku sangat mencintainya!Aku tak mampu hidup tanpanya!”

Nenek Kiap: “Nenek mengerti perasaan Nyai! Tapi yang harus Nyai lakukan sekarang adalah memikirkan anak yang ada di dalam kandungan Nyai!”

Nyai Rangkas terdiam, tak mampu mengatakan apapun lagi.

SCENE 5

Tahun berganti tahun dan Nyai Rangkas masih tinggal bersama Nenek Kiap untuk menjaga bayinya. Hingga akhirnya, Nyai Rangkas melahirkan seorang bayi laki-laki…

Nenek Kiap: “Nyai! Nyai telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat!”

Nyai Rangkas: “Ah…syukurlah kau sudah lahir, Nak…”

Nenek: “Akan kau beri apa nama bayimu ini?”

Nyai Rangkas: “Mandangin. Ya, Mandangin.”

Nenek: “Mandangin?”

Nyai Rangkas: “Ya, Mandangin. Anak Titisan Dewa Angin.”

Seiring berjalannya waktu, Mandangin tumbuh menjadi seseorang yang baik hati dan ramah. Suatu hari,setelah berpamitan pada ibunya, Mandangin pergi menuju hutan untuk berburu. Lalu Ia melihat sebuah batu besar yang membuatnya penasaran.

Mandangin: “Besar sekali batu ini.Aku tidak pernah melihat batu sebesar ini!”

Suara Dewa: “Mandangin,”

Mandangin: “Siapa itu?!Dimana kau?!Tunjukkan dirimu!” *ekspresi kaget,takut,bingung* *kepala bergerak mencari sumber suara*

Suara Dewa: “Aku adalah Dewa Angin.Mandangin,jika kau menginginkan kekuatan dan kesaktian, bertapalah diatas batu itu selama satu purnama.”

Mandangin: “Apa maksud perkataanmu?!”

Namun, suara itu tidak mengatakan apa-apa lagi.Mandangin pun melanjutkan berburu dan pulang ke gua.

Mandangin: “Aku pulang!”

Nyai Rangkas: “Selamat datang,Mandangin!Bagaimana,apa kau mendapatkan sesuatu?”

Mandangin: “Ya,Ibunda.Aku mendapat dua ekor kelinci.”

Nyai Rangkas: “Ada apa anakku?Sepertinya kau sedang bingung.”

Mandangin: “Jadi begini bu…”

Mandangin pun menceritakan semuanya kepada Ibunya.Nyai Rangkas hanya diam mendengar anaknya bercerita.

Mandangin: “Bagaimana?Apa Ibu tahu maksud suara itu?”

Nyai Rangkas: “Beristirahatlah dahulu,Nak.Ibu akan membicarakannya dulu dengan Nenek Kiap.”

Mandangin: “Baiklah,Bu.Selamat malam.”

Nyai Rangkas: “Selamat malam.”

SCENE 5

Setelah Mandangin tertidur, Nyai Rangkas pun mendiskusikan hal tersebut dengan Nenek Kiap.

Nyai Rangkas: “Bagaimana Nek?Apa yang harus kulakukan?”

Nenek Kiap: “Mungkin sekarang sudah saatnya Nyai melepas Mandangin.Dia sudah dewasa,biarkan dia berkelana mendaki gunung dan melewati lembah untuk membela kebenaran.”

Nyai Rangkas: “……Baiklah jika memang itu yang terbaik untuknya.”

Nenek Kiap: “Sebaiknya besok pagi Nyai siapkan bekal untuk dia mengembara.Tapi sebelum itu, suruhlah dia bertapa di batu besar itu seperti yang diperintahkan Dewa Angin.”

Pagi menyongsong, Nyai Rangkas pun bergegas menyiapkan bekal perjalanan untuk Mandangin. Setelah memberi beberapa petuah dan nasihat, Nyai Rangkas pun merelakan anaknya pergi untuk membela kebenaran. Tidak lupa Ia berpesan agar Mandangin bertapa sesuai yang diperintahkan Dewa Angin.

Ketika sedang menyusuri hutan, Ia mendengar seorang gadis sedang bernyanyi merdu.

*Kirana nyanyi* *Mandangin mengintip dibalik semak-semak* *Tiba2 Kirana disamperin Maya*

Maya: “Nona Kirana,hari sudah sore.Ayo pulang!”

Kirana: “Nanti saja, aku masih ingin bermain disini.”

Maya: “Pulanglah sekarang, Nona. Aku takut Tuman tidak akan membiarkanmu keluar lagi.”

Kirana: “Hhh…baiklah. Ayo kita pulang.” *pergi bersama Maya*

Mandangin: “Siapa gadis itu?Cantik sekali dia,suaranya merdu pula…”

Mandangin pun melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di batu besar, Ia bertapa seperti yang diperintahkan Dewa Angin dan Ibunya. Waktu pun berlalu, hingga satu purnama telah terlewati.

Suara Dewa: “Mandangin, telah kuberikan kesaktian padamu. Gunakanlah baik-baik untuk menegakkan kebenaran!”

Mandangin: “Terimakasih Dewa!Aku akan menggunakan kekuatanku ini demi kebenaran!”

SCENE 6

Kemudian, Mandangin melanjutkan pengembaraan. Dia terus mengembara hingga sampai di sebuah desa bernama Perek Rango. Ketika sedang berkeliling desa, Ia melihat gerombolan Tuman—Penguasa Desa—yang terkenal kejam sedang menyiksa beberapa warga desa.

Mandangin: “Sedang apa kalian?! Kenapa kalian perlakukan mereka seperti itu?!”

Bawahan Tuman 1: “Siapa kau?!Mereka ini sudah melanggar peraturan desa!Mereka berhak diperlakukan seperti ini!”

Mandangin: “Aku adalah Mandangin, dan aku tidak bisa membiarkan kalian melakukan hal kejam seperti ini!”

Bawahan Tuman 2: “Jadi kau berani melawan kami?!”

Bawahan Tuman 1: “Ayo lawan kami kalau kau berani!”

Gerombolan Tuman mengeluarkan senjata mereka dan menyerang Mandangin. Namun, senjata dan kekuatan mereka tidak sebanding dengan kesaktian Mandangin yang melawan dengan tangan kosong.

Bawahan Tuman 2: “Uukh…Awas kau,Mandangin! Akan kami laporkan kejadian ini pada Tuan kami!”

SCENE 7

Para bawahan Tuman bergegas menuju rumah Tuman yang besar ditengah desa. Mereka pun mengadukan Mandangin dan menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan mereka.

Bawahan Tuman 1: “Tuan, seorang lelaki dari luar desa mengganggu pekerjaan kami dan mengalahkan kami dalam perkelahian!”

Tuman: “Apa?!Siapa dia?!”

Bawahan Tuman 1: “Kami tidak tahu. Tapi dia menyebut dirinya dengan nama ‘Mandangin’,Tuan.”

Tuman: “Mandangin?!Nama yang aneh. Berani-beraninya dia mengalahkan bawahanku, Tuman yang hebat ini!”

Bawahan Tuman 2: “Benar, Tuan!Kami yakin dia masih ada di desa ini. Tuan harus memberinya pelajaran!”

Tuman dan bawahannya pun pergi mencari Mandangin di desa.

Bawahan Tuman 2: “Itu dia,Tuan!Itu Mandangin!”

Tuman: “HEI!Kaukah yang bernama Mandangin?”

Mandangin: “Ya,aku Mandangin. Siapa kau? Ada apa ini?”

Tuman: “Jangan banyak bicara!Lawan aku!”

Tanpa berkata apa-apa, Tuman langsung menyerang Mandangin dengan pukulannya berkali-kali.

Awalnya Mandangin hanya menghindar, namun karena Tuman terus memukul Mandangin, akhirnya Mandangin melawan dengan kekuatannya yang dahsyat.

Tuman: “Kau…kekuatanmu itu…”

Mandangin: “Berdirilah lagi, lawan aku.”

Namun, sebelum Tuman bisa mengumpulkan tenaganya lagi, seorang wanita menusuk Tuman dengan belati dan Tuman terluka parah.

Tuman: “Apa yang kau lakukan, Kirana?!”

Kirana: “Aku sudah muak dengan kau, Tuman!”

Mandangin: “K—Kau…”

Kirana: “Aku ini salah satu korban keserakahannya. Dia sudah membunuh anggota keluargaku, jadi…”

Tuman: “Sialan kau! Awas kalian! Tunggu saja pembalasanku!” (jari ala ‘I’m watching you’)

Kedua bawahan Tuman mengangkat Tuman dan membawanya pergi.

Audya: “Tuman sudah pergi?”

Monika: “Tuman sudah pergi!”

Semua Warga: “Tuman telah pergi!Hidup Mandangin!Kita sudah bebas!”

Monika: “Terima kasih atas semua kebaikan Tuan. Apakah anda bersedia menjadi pemimpin desa kami, Tuan?”

Mandangin: “Tapi,aku…”

Kirana: “Terima saja, Tuan. Anda pantas menjadi seorang pemimpin untuk kami.”

Audya: “Ya!Anda bisa melindungi kami dari kejahatan, Tuan!”

Mandangin: “Baiklah jika kalian mempercayaiku untuk menjadi pemimpin kalian. Aku menerimanya.”

Seluruh warga: “Hidup Mandangin! Pemimpin yang baru!!”

SCENE 8

Mandangin pun menjadi pemimpin desa yang arif dan bijaksana seperti harapan Ibunya. Perek Rango yang dipimpinnya pun aman dan penuh kedamaian. Di suatu sore yang indah…

Kirana: “Terima kasih sekali lagi, Mandangin. Berkat Tuan desa ini menjadi tentram.”

Mandangin: “Ah, itu bukan apa-apa…Ohiya, dulu aku pernah tidak sengaja melihatmu di hutan. Ternyata suaramu merdu sekali. Selembut sutra…”

Kirana: *mesem-mesem* “Ah, Tuan ini bisa saja.”

Mandangin menggombal-ria

Kirana: “Hari sudah sore. Aku pulang dulu, Tuan. Sampai ketemu besok.”

Mandangin: “Ah,iya. Sampai ketemu.”

Keesokan harinya, Mandangin yang sedang sarapan dihampiri oleh seorang warga desa.

Maya: “Selamat pagi, Tuan Mandangin.”

Mandangin: “Ah iya, selamat pagi.”

Maya: “Maaf bertanya seperti ini. Tapi sepertinya Tuan menyukai Nona Kirana. Apa saya benar?”

Mandangin: “Iya…haha. Ada apa memangnya?”

Mandangin: “Saya kasihan sekali dengan Nona. Hidupnya tidak bahagia sejak bertemu Tuman. Jadikanlah dia istrimu, Tuan. Dia pantas menjadi pendamping anda. Anda pasti dapat membahagiakannya.”

Tiba-tiba seorang warga datang dan dengan panik mencari-cari Mandangin.

Monik: “Tuan Mandangin!Tuan!Gawat!”

Mandangin: “Ada apa ini?”

Monik: “Nona Kirana!Dia diculik oleh Tuman!” *memberikan secarik kertas dari Tuman*

Mandangin: *membaca surat* “Mandangin, jika kau ingin gadis tercintamu ini kembali, bertarunglah denganku sekali lagi di kediamanku nanti malam. Datang atau gadis ini takkan selamat.”

Maya: “Jadi benar dia akan balas dendam. Betapa kurang ajarnya dia!”

Mandangin: “Berarti, kita harus menunggu sampai malam tiba.”

Monik: “Lalu apa yang akan kau lakukan?Berlatih?”

Mandangin: *mau mengangguk,tapi malah menggeleng* “Tidak.Aku ingin tidur.Dari kemarin aku tidak bisa tidur…”

SCENE 9

Sementara itu, bawahan Tuman yang menculik Kirana langsung membawanya ke kediaman Tuman.

Gadis: “Uhh!Mau apa kalian?!”

Bawahan 1: “Kami akan membawamu kepada Tuman!”

Bawahan 2: “Kami akan menggunakanmu sebagai umpan untuk mengalahkan Mandangin!”

Gadis: “Cih!Kalian tidak akan bisa mengalahkan Mandangin!”

Bawahan 1: “Diam kau!Tidak usah banyak bicara!”

Tuman: “HEI!Ada apa ini ribut-ribut?!”

Bawahan 2: “Gadis itu sebal, Tuan!”

Bawahan 1: “BEBAL,bodoh!”

Tuman: “Ah!Diam kalian!Aku harus bersiap2 jika Mandangin datang.”

Tidak lama kemudian Mandangin datang.

Tuman: “Berani juga kau datang kesini, Mandangin!”

Mandangin: “Serahkan gadis itu, Tuman!Kau tak mungkin bertarung dengan tubuhmu yang terluka seperti itu!”

Tuman: “Jangan meremehkanku, Mandangin! Meski tubuhku terluka, aku masih bisa bertarung!”

Mandangin: “Baiklah kalau itu yang kau minta…”

Mereka bertarung, Tuman dengan pedangnya dan Mandangin bertarung dengan tangan kosong. Mandangin tiba-tiba tersandung dan jatuh, lalu Tuman mengacungkan pedangnya ke muka Mandangin.

Mandangin: “Si—Sial…”

Tuman: “Memalukan sekali, Mandangin. Karena tersandung kau kalah denganku. Dengan ini kau akan mati!”

Tuman mengangkat pedangnya dan hendak menghunuskannya, tapi…

Kirana: “Tuan Mandangin, jangan kalah!”

Mandangin seolah-olah mendapat kekuatan…XD Dia menahan pedang Tuman dengan tangan kosong.

Tuman: “A—Apa?!Bagaimana bisa?!”

Mandangin: “Ooo tentu bisa.”

Mandangin pun bangkit dan melawan Tuman. Karena kekuatannya itu, Tuman jatuh dan dia pun memberi isyarat pada bawahannya untuk ikut bertarung.

Tuman: “Hei kalian! Lawan dia!”

Bawahan 1&2: “Ba—baik, Tuan!”

Mereka pun melawan, tapi kekuatan Mandangin jauh lebih dahsyat.

Bawahan 1: “Ampun, Mandangin! Kami kapok!”

Bawahan 2: “Ya! Kami mengaku kalah. Kami khilaf…Kekuatanmu memang tidak ada tandingannya, Mandangin.”

Tuman: “Hei, apa-apaan kalian?!”

Bawahan 1: “Sudahlah!Kami sudah muak denganmu, Tuman!”

Bawahan 2: “Benar! Enyahlah kau dari desa ini!”

Tuman: “Kurang ajar kalian…Cepat atau lambat kalian akan menyesalinya!”

Tuman pun pergi meninggalkan desa. Mandangin langsung menghampiri Kirana dan membuka ikatannya.

Kirana: “Terima kasih, Mandangin. Aku berhutang budi padamu. Andai aku tahu bagaimana cara untuk membalas jasamu.”

Mandangin: “Aku tahu.”

Kirana: “Eh?Bagaimana caranya, Tuan?”

Mandangin berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak cincin.

Mandangin: “Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku, Kirana. Would you marry me?”

Kirana: “Mandangin…..I—I do…” XDD


Mandangin dan Kirana pun menikah dan memimpin Desa Perek Rango dengan baik. Nyai Rangkas dan Nenek Kiap pun tinggal bersama Mandangin di desa itu. Sejak saat itu Tuman tidak pernah muncul lagi. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Ujian Praktek SMA; Bersama Leonardus dan Priya

Berprahara Setegar Pujangga Putra Merah, merah Adalah duka dalam derita Berjuta jiwa berjuta nyawa Merah Mencapai hati menyerang nurani Saat tragedi kemanusiaan dimulai Tanjung Priok, Ambon dan Poso, trisakti ‘98 Tapi merah akan tetap teguh Surabaya 10 November, Jogja 5 Maret, Bandung Lautan Api Adalah bukti penyebab merah masih mengalir dalam denyut nadi pribumi Merah adalah cinta,  adalah amarah Yang mengantarkan nyawa mallaby jendral sekutunya bangsa jatuh ke neraka Merah adalah darah, Sipadan Ligitan hilang BUMN digadaikan Darah mu adalah hitam Birokrat, memakan uang rakyat, oknum pejabat, tak punya hati nurani Hitam Adalah hasrat, adalah kepentingan, adalah tawa diatas derita Hitam, akulah yang kau sebut hitam itu Akulah yang kau sebut keparat tak punya nurani itu Nurani Apa kabarmu nurani Masihkah ia hidup di negeri ini, ditanah ini Ketika budi pekerti hanyalah sampah Masih bernafaskah hati nurani ini Aku, Sang ...

KORUPSI ?? MENGAPA HARUS TERJADI !!

            Siapa sih yang tidak kenal dengan kata korupsi. Dialah si penyebab orang buta, yang buta hati, tak peduli, tak malu dengan perbuatan keji seperti itu. “Tanpa korupsi saya tidak akan bisa melakukan seperti yang saya mau tentunya” ujar setiap koruptor, Korupsi sendiri sangat disegani bagi para penimbun kekayaan, karena dengan keberadaannyalah dapat mengubah hidup para manusia yang tergiur dengan harta. Dengan uang, semua hal dapat dilakukan di Indonesia bahkan di muka bumi sekarang kita berdiri. Apapun itu dapat di beli dengan uang mulai dari barang, budaya, politik sampai hukum pun dapat dibeli terutama di Indonesia. Seakan akan mereka merasa sangat aman, karena masih memiliki kekasih semu mereka “uang”.             Korupsi pun akhirnya meraja lela di negeri yang terkenal dengan berjuta kekayaan alam yang melimpah. Tercatat oleh The World Justice Project, pada ta...