MANDANGIN
Narator:
Aulia Karima
Mandangin:
Ganjar Abdillah A.
Nyai
Rangkas: Yuni Ermaliza
Sangkajang:
M. Aldika Biyanto
Tuman:
Muslih Hakim
Dewa
Angin (Suara) : I Putu Gede Ardana
Nenek
Kiap: Stacia Dorothy T.
Kirana:
Karina Garnovelly K.
Perompak:
I Putu Gede Ardana
Bawahan
Tuman: I Putu Gede Ardana, M. Aldika Biyanto
Warga
1: Maya Kurnia Insani
Warga
2: Monika Chandra
Warga
3: Audya Pratiwi P.
X.6
SMAN 2 TANGERANG SELATAN
SCENE 1
Pada jaman dahulu di hutan tak jauh
dari Muara Sungai Mandahan, hiduplah sepasang suami istri yaitu Nyai Rangkas
dan Sangkajang. Namun, walaupun mereka sudah lama menikah,mereka belum
dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari…
Sangkajang: (baru pulang berburu)
“Aku pulang,Dinda.”
Nyai Rangkas: “Suamiku, Kakanda!”
Sangkajang: “Ada apa gerangan,
Adindaku?”
Nyai Rangkas: “Tadi Dinda bermimpi
akan mendapatkan keturunan yang dititiskan oleh Dewa Angin.”
Sangkajang: “Benarkah itu,Dinda?”
Nyai Rangkas: “Ya,benar,Kanda!”
Sangkajang: “Syukurlah!Akhirnya
kita bisa mempunyai keturunan juga!”
Nyai Rangkas: “Tapi…dinda harus
bertapa di sebuah batu besar di tepi Sungai Mandahan selama Sembilan hari
Sembilan malam.”
Sangkajang: “Dinda, bertapa itu
sulit, apalagi Dinda seorang wanita. Sembilan hari Sembilan malam pula!”
Nyai Rangkas: “Dinda akan baik-baik
saja Kanda.Percayakan pada Dinda.”
Sangkajang: “Tidak, Dinda. Kanda
takkan membiarkanmu pergi. Itu berbahaya.”
Nyai Rangkas: “Tapi kanda…”
Sangkajang: “Sudahlah Dinda, aku
ingin beristirahat. Lelah sekali sehabis berburu.”
Nyai Rangkas: “Baiklah, Kanda.”
Ketika suaminya itu sudah tertidur,
Nyai Rangkas pergi diam-diam menuju tepi Sungai Mandahan untuk mencari sebuah
batu besar.
Nyai Rangkas: “Ini dia batunya!
Persis dalam mimpiku!”
Suara Dewa: “Nyai Rangkas.”
Nyai Rangkas: “Apa?Siapa itu?”
Suara Dewa: “Aku adalah Dewa Angin.
Nyai Rangkas, jika kau ingin memiliki anak dari titisanku, lakukanlah ritual
pertapaan di batu besar itu selama Sembilan hari Sembilan malam, dengan posisi
duduk menghadap arah matahari terbit.”
Nyai Rangkas: “Kalau begitu,
mimpiku itu benar?Ba,baiklah dewa.Aku akan bertapa sesuai yang kau
perintahkan.”
Nyai
Rangkas bertapa di batu besar itu
SCENE 2
Sementara itu, Sangkajang yang
ditinggalkan Nyai Rangkas panik karena tidak menemukan istrinya dimanapun.
Sangkajang: “Dinda, Dinda! Dimana
kamu, Dinda?Jangan-jangan…dia pergi bertapa di tepi Sungai Mandahan karena
mimpinya itu?”
Sangkajang pun pergi ke hutan dan
mencari istrinya. Namun Sangkajang tidak menemukannya dan putus asa. Dia
berjalan tanpa arah hingga menemukan sebuah rawa.
Sangkajang: “Aku tidak bisa
menemukannya dimanapun!Dimanakah gerangan istriku?”
Sangkajang
duduk ditepi rawa, hingga dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.
Sangkajang: “Dinda?”
Perompak: “Serahkan hartamu
sekarang juga!”
Sangkajang: “Tapi aku tidak membawa
harta apapun!”
Perompak: “AH!Tidak usah banyak
bicara!Nyawa?Atau Harta?”
Sangkajang: “Sudah kukatakan aku
tidak membawa harta apapun!”
Perompak: “AH banyak bicara kau…”
*Berantem Ala Matrix*
Sangkajang
menghindari serangan perompak itu dengan mudahnya, namun, karena tanah yang
licin, Sangkajang pun terpeleset dan jatuh.
Sangkajang: “AH!”
Perompak: “HAHAHA betapa
memalukan!”
Sangkajang: “Gawat…”
Perompak
menghunuskan pedangnya pada Sangkajang yang tidak siap menghindar. Setelah itu,
dia memeriksa baju Sangkajang dan tidak menemukan harta apapun.
Perompak: “Sial!Tidak ada harta
apapun!”
Sangkajang: “Bukannya sudah
kukatakan?”
Perompak: *menendang tubuh
Sangkajang* “Diam kau!Mati dan membusuklah disini!”
Sang
Perompak pun pergi dengan tangan hampa
Sangkajang: “Uhh…Maafkan
Kanda,Dinda. Sepertinya Kanda tidak bisa menemani Dinda untuk selamanya…”
Sangkajang
pun meninggal di tengah hutan yang sepi itu.
SCENE 3
Hari demi hari berlalu, akhirnya
Nyai Rangkas berhasil melakukan ritual pertapaannya. Tiba-tiba langit tampak
bercahaya.
Suara Dewa: “Nyai Rangkas, sekarang
kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tugasmu adalah menjaga titisanku
itu dengan baik, karena suatu saat Ia akan menjadi pembawa kedamaian bagi
sebuah desa yang sedang dalam kekacauan.”
Nyai Rangkas: “Baik Dewa,aku akan
menjaga anak yang kukandung ini dengan baik.”
Setelah itu, Nyai Rangkas kembali
menyusuri sungai dan kembali kerumahnya untuk memberi kejutan pada suaminya.
Nyai Rangkas: “Kanda…Kanda…!Dimana
Kanda berada?Dinda memiliki kejutan untuk untuk Kanda…!”
Nyai
Rangkas mencari-cari Sangkajang di sekeliling rumah mereka
Namun, karena tidak menemukan
Sangkajang dimanapun, Nyai Rangkas pergi ke hutan untuk mencari suaminya.
Nyai
Rangkas memasuki hutan dan melewati rawa dimana suaminya dibunuh oleh
perompak.Nyai Rangkas tersandung sebuah kayu sampai terjatuh
Nyai Rangkas: “Aduh…ah, apa
ini?Ini…apa?Ah…ta—tangan?”
Nyai
Rangkas membuka dedaunan yang menutupi kelanjutan dari tangan itu, dan dia
terkejut, yang dia lihat adalah suaminya yang sudah meninggal bersimbah darah
Nyai Rangkas: *menangis* “Ka—Kanda?
Kanda! Oh Dewa, apa yang terjadi dengan suamiku?Kenapa ini terjadi,
Dewa?!Kenapa harus suamiku?!”
SCENE 4
Karena tak kuasa menahan kesedihan,
Nyai Rangkas pun pingsan disamping jenazah suaminya. Ketika sadar keesokan
harinya, Nyai Rangkas sudah berada di sebuah gua.
Nyai Rangkas: “Uuh..Dimana ini?Apa
yang terjadi?”
Tiba-tiba
datang seorang nenek membawa segelas air
Nenek Kiap: “Harap Nyai tidak
bergerak dulu karena badan Nyai masih lemah. Sebaiknya Nyai minum air ini
dulu.”
Nyai Rangkas: “Nenek siapa?Saya
dimana?”
Nenek Kiap: “Nenek ditugaskan oleh
Dewa Angin untuk menjaga Nyai dan bayi kandungan Nyai. Nama nenek adalah Kiap.”
Nyai Rangkas: “Aku…Suamiku—Ah,aku
menyesal telah meninggalkannya demi keegoisanku!”
Nenek
Kiap mengelus punggung Nyai Rangkas, mencoba menghiburnya.
Nenek Kiap: “Sudahlah, Nyai. Jangan
terlalu memikirkan kepergian Suamimu. Itu sudah menjadi takdirnya.”
Nyai Rangkas: “Tapi Nek!Aku sangat
mencintainya!Aku tak mampu hidup tanpanya!”
Nenek Kiap: “Nenek mengerti
perasaan Nyai! Tapi yang harus Nyai lakukan sekarang adalah memikirkan anak
yang ada di dalam kandungan Nyai!”
Nyai
Rangkas terdiam, tak mampu mengatakan apapun lagi.
SCENE 5
Tahun berganti tahun dan Nyai
Rangkas masih tinggal bersama Nenek Kiap untuk menjaga bayinya. Hingga
akhirnya, Nyai Rangkas melahirkan seorang bayi laki-laki…
Nenek Kiap: “Nyai! Nyai telah
melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat!”
Nyai Rangkas: “Ah…syukurlah kau
sudah lahir, Nak…”
Nenek: “Akan kau beri apa nama
bayimu ini?”
Nyai Rangkas: “Mandangin. Ya,
Mandangin.”
Nenek: “Mandangin?”
Nyai Rangkas: “Ya, Mandangin. Anak
Titisan Dewa Angin.”
Seiring berjalannya waktu,
Mandangin tumbuh menjadi seseorang yang baik hati dan ramah. Suatu hari,setelah
berpamitan pada ibunya, Mandangin pergi menuju hutan untuk berburu. Lalu Ia
melihat sebuah batu besar yang membuatnya penasaran.
Mandangin: “Besar sekali batu
ini.Aku tidak pernah melihat batu sebesar ini!”
Suara Dewa: “Mandangin,”
Mandangin: “Siapa itu?!Dimana
kau?!Tunjukkan dirimu!” *ekspresi kaget,takut,bingung* *kepala bergerak mencari
sumber suara*
Suara Dewa: “Aku adalah Dewa
Angin.Mandangin,jika kau menginginkan kekuatan dan kesaktian, bertapalah diatas
batu itu selama satu purnama.”
Mandangin: “Apa maksud
perkataanmu?!”
Namun, suara itu tidak mengatakan
apa-apa lagi.Mandangin pun melanjutkan berburu dan pulang ke gua.
Mandangin: “Aku pulang!”
Nyai Rangkas: “Selamat
datang,Mandangin!Bagaimana,apa kau mendapatkan sesuatu?”
Mandangin: “Ya,Ibunda.Aku mendapat
dua ekor kelinci.”
Nyai Rangkas: “Ada apa
anakku?Sepertinya kau sedang bingung.”
Mandangin: “Jadi begini bu…”
Mandangin pun menceritakan semuanya
kepada Ibunya.Nyai Rangkas hanya diam mendengar anaknya bercerita.
Mandangin: “Bagaimana?Apa Ibu tahu
maksud suara itu?”
Nyai Rangkas: “Beristirahatlah
dahulu,Nak.Ibu akan membicarakannya dulu dengan Nenek Kiap.”
Mandangin: “Baiklah,Bu.Selamat
malam.”
Nyai Rangkas: “Selamat malam.”
SCENE 5
Setelah Mandangin tertidur, Nyai
Rangkas pun mendiskusikan hal tersebut dengan Nenek Kiap.
Nyai Rangkas: “Bagaimana Nek?Apa
yang harus kulakukan?”
Nenek Kiap: “Mungkin sekarang sudah
saatnya Nyai melepas Mandangin.Dia sudah dewasa,biarkan dia berkelana mendaki
gunung dan melewati lembah untuk membela kebenaran.”
Nyai Rangkas: “……Baiklah jika
memang itu yang terbaik untuknya.”
Nenek Kiap: “Sebaiknya besok pagi
Nyai siapkan bekal untuk dia mengembara.Tapi sebelum itu, suruhlah dia bertapa
di batu besar itu seperti yang diperintahkan Dewa Angin.”
Pagi menyongsong, Nyai Rangkas pun
bergegas menyiapkan bekal perjalanan untuk Mandangin. Setelah memberi beberapa
petuah dan nasihat, Nyai Rangkas pun merelakan anaknya pergi untuk membela
kebenaran. Tidak lupa Ia berpesan agar Mandangin bertapa sesuai yang
diperintahkan Dewa Angin.
Ketika sedang menyusuri hutan, Ia
mendengar seorang gadis sedang bernyanyi merdu.
*Kirana nyanyi* *Mandangin
mengintip dibalik semak-semak* *Tiba2 Kirana disamperin Maya*
Maya: “Nona Kirana,hari sudah
sore.Ayo pulang!”
Kirana: “Nanti saja, aku masih
ingin bermain disini.”
Maya: “Pulanglah sekarang, Nona.
Aku takut Tuman tidak akan membiarkanmu keluar lagi.”
Kirana: “Hhh…baiklah. Ayo kita
pulang.” *pergi bersama Maya*
Mandangin: “Siapa gadis itu?Cantik
sekali dia,suaranya merdu pula…”
Mandangin pun melanjutkan
perjalanannya. Sesampainya di batu besar, Ia bertapa seperti yang diperintahkan
Dewa Angin dan Ibunya. Waktu pun berlalu, hingga satu purnama telah terlewati.
Suara Dewa: “Mandangin, telah
kuberikan kesaktian padamu. Gunakanlah baik-baik untuk menegakkan kebenaran!”
Mandangin: “Terimakasih Dewa!Aku
akan menggunakan kekuatanku ini demi kebenaran!”
SCENE 6
Kemudian, Mandangin melanjutkan
pengembaraan. Dia terus mengembara hingga sampai di sebuah desa bernama Perek
Rango. Ketika sedang berkeliling desa, Ia melihat gerombolan Tuman—Penguasa
Desa—yang terkenal kejam sedang menyiksa beberapa warga desa.
Mandangin: “Sedang apa kalian?!
Kenapa kalian perlakukan mereka seperti itu?!”
Bawahan Tuman 1: “Siapa kau?!Mereka
ini sudah melanggar peraturan desa!Mereka berhak diperlakukan seperti ini!”
Mandangin: “Aku adalah Mandangin,
dan aku tidak bisa membiarkan kalian melakukan hal kejam seperti ini!”
Bawahan Tuman 2: “Jadi kau berani
melawan kami?!”
Bawahan Tuman 1: “Ayo lawan kami
kalau kau berani!”
Gerombolan
Tuman mengeluarkan senjata mereka dan menyerang Mandangin. Namun, senjata dan
kekuatan mereka tidak sebanding dengan kesaktian Mandangin yang melawan dengan
tangan kosong.
Bawahan Tuman 2: “Uukh…Awas
kau,Mandangin! Akan kami laporkan kejadian ini pada Tuan kami!”
SCENE 7
Para bawahan Tuman bergegas menuju
rumah Tuman yang besar ditengah desa. Mereka pun mengadukan Mandangin dan
menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan mereka.
Bawahan Tuman 1: “Tuan, seorang
lelaki dari luar desa mengganggu pekerjaan kami dan mengalahkan kami dalam
perkelahian!”
Tuman: “Apa?!Siapa dia?!”
Bawahan Tuman 1: “Kami tidak tahu.
Tapi dia menyebut dirinya dengan nama ‘Mandangin’,Tuan.”
Tuman: “Mandangin?!Nama yang aneh.
Berani-beraninya dia mengalahkan bawahanku, Tuman yang hebat ini!”
Bawahan Tuman 2: “Benar, Tuan!Kami
yakin dia masih ada di desa ini. Tuan harus memberinya pelajaran!”
Tuman dan bawahannya pun pergi
mencari Mandangin di desa.
Bawahan Tuman 2: “Itu dia,Tuan!Itu
Mandangin!”
Tuman: “HEI!Kaukah yang bernama
Mandangin?”
Mandangin: “Ya,aku Mandangin. Siapa
kau? Ada apa ini?”
Tuman: “Jangan banyak bicara!Lawan
aku!”
Tanpa berkata apa-apa, Tuman
langsung menyerang Mandangin dengan pukulannya berkali-kali.
Awalnya
Mandangin hanya menghindar, namun karena Tuman terus memukul Mandangin,
akhirnya Mandangin melawan dengan kekuatannya yang dahsyat.
Tuman: “Kau…kekuatanmu itu…”
Mandangin: “Berdirilah lagi, lawan
aku.”
Namun,
sebelum Tuman bisa mengumpulkan tenaganya lagi, seorang wanita menusuk Tuman
dengan belati dan Tuman terluka parah.
Tuman: “Apa yang kau lakukan,
Kirana?!”
Kirana: “Aku sudah muak dengan kau,
Tuman!”
Mandangin: “K—Kau…”
Kirana: “Aku ini salah satu korban
keserakahannya. Dia sudah membunuh anggota keluargaku, jadi…”
Tuman: “Sialan kau! Awas kalian!
Tunggu saja pembalasanku!” (jari ala ‘I’m watching you’)
Kedua
bawahan Tuman mengangkat Tuman dan membawanya pergi.
Audya: “Tuman sudah pergi?”
Monika: “Tuman sudah pergi!”
Semua Warga: “Tuman telah
pergi!Hidup Mandangin!Kita sudah bebas!”
Monika: “Terima kasih atas semua
kebaikan Tuan. Apakah anda bersedia menjadi pemimpin desa kami, Tuan?”
Mandangin: “Tapi,aku…”
Kirana: “Terima saja, Tuan. Anda
pantas menjadi seorang pemimpin untuk kami.”
Audya: “Ya!Anda bisa melindungi
kami dari kejahatan, Tuan!”
Mandangin: “Baiklah jika kalian
mempercayaiku untuk menjadi pemimpin kalian. Aku menerimanya.”
Seluruh warga: “Hidup Mandangin!
Pemimpin yang baru!!”
SCENE 8
Mandangin pun menjadi pemimpin desa
yang arif dan bijaksana seperti harapan Ibunya. Perek Rango yang dipimpinnya
pun aman dan penuh kedamaian. Di suatu sore yang indah…
Kirana: “Terima kasih sekali lagi,
Mandangin. Berkat Tuan desa ini menjadi tentram.”
Mandangin: “Ah, itu bukan
apa-apa…Ohiya, dulu aku pernah tidak sengaja melihatmu di hutan. Ternyata
suaramu merdu sekali. Selembut sutra…”
Kirana: *mesem-mesem* “Ah, Tuan ini
bisa saja.”
Mandangin
menggombal-ria
Kirana: “Hari sudah sore. Aku
pulang dulu, Tuan. Sampai ketemu besok.”
Mandangin: “Ah,iya. Sampai ketemu.”
Keesokan harinya, Mandangin yang
sedang sarapan dihampiri oleh seorang warga desa.
Maya: “Selamat pagi, Tuan
Mandangin.”
Mandangin: “Ah iya, selamat pagi.”
Maya: “Maaf bertanya seperti ini.
Tapi sepertinya Tuan menyukai Nona Kirana. Apa saya benar?”
Mandangin: “Iya…haha. Ada apa
memangnya?”
Mandangin: “Saya kasihan sekali
dengan Nona. Hidupnya tidak bahagia sejak bertemu Tuman. Jadikanlah dia
istrimu, Tuan. Dia pantas menjadi pendamping anda. Anda pasti dapat
membahagiakannya.”
Tiba-tiba
seorang warga datang dan dengan panik mencari-cari Mandangin.
Monik: “Tuan Mandangin!Tuan!Gawat!”
Mandangin: “Ada apa ini?”
Monik: “Nona Kirana!Dia diculik
oleh Tuman!” *memberikan secarik kertas dari Tuman*
Mandangin: *membaca surat*
“Mandangin, jika kau ingin gadis tercintamu ini kembali, bertarunglah denganku
sekali lagi di kediamanku nanti malam. Datang atau gadis ini takkan selamat.”
Maya: “Jadi benar dia akan balas
dendam. Betapa kurang ajarnya dia!”
Mandangin: “Berarti, kita harus
menunggu sampai malam tiba.”
Monik: “Lalu apa yang akan kau
lakukan?Berlatih?”
Mandangin: *mau mengangguk,tapi
malah menggeleng* “Tidak.Aku ingin tidur.Dari kemarin aku tidak bisa tidur…”
SCENE 9
Sementara itu, bawahan Tuman yang
menculik Kirana langsung membawanya ke kediaman Tuman.
Gadis: “Uhh!Mau apa kalian?!”
Bawahan 1: “Kami akan membawamu
kepada Tuman!”
Bawahan 2: “Kami akan menggunakanmu
sebagai umpan untuk mengalahkan Mandangin!”
Gadis: “Cih!Kalian tidak akan bisa
mengalahkan Mandangin!”
Bawahan 1: “Diam kau!Tidak usah
banyak bicara!”
Tuman: “HEI!Ada apa ini
ribut-ribut?!”
Bawahan 2: “Gadis itu sebal, Tuan!”
Bawahan 1: “BEBAL,bodoh!”
Tuman: “Ah!Diam kalian!Aku harus
bersiap2 jika Mandangin datang.”
Tidak
lama kemudian Mandangin datang.
Tuman: “Berani juga kau datang
kesini, Mandangin!”
Mandangin: “Serahkan gadis itu,
Tuman!Kau tak mungkin bertarung dengan tubuhmu yang terluka seperti itu!”
Tuman: “Jangan meremehkanku,
Mandangin! Meski tubuhku terluka, aku masih bisa bertarung!”
Mandangin: “Baiklah kalau itu yang
kau minta…”
Mereka
bertarung, Tuman dengan pedangnya dan Mandangin bertarung dengan tangan kosong.
Mandangin tiba-tiba tersandung dan jatuh, lalu Tuman mengacungkan pedangnya ke
muka Mandangin.
Mandangin: “Si—Sial…”
Tuman: “Memalukan sekali,
Mandangin. Karena tersandung kau kalah denganku. Dengan ini kau akan mati!”
Tuman
mengangkat pedangnya dan hendak menghunuskannya, tapi…
Kirana: “Tuan Mandangin, jangan
kalah!”
Mandangin
seolah-olah mendapat kekuatan…XD Dia menahan pedang Tuman dengan tangan kosong.
Tuman: “A—Apa?!Bagaimana bisa?!”
Mandangin: “Ooo tentu bisa.”
Mandangin
pun bangkit dan melawan Tuman. Karena kekuatannya itu, Tuman jatuh dan dia pun
memberi isyarat pada bawahannya untuk ikut bertarung.
Tuman: “Hei kalian! Lawan dia!”
Bawahan 1&2: “Ba—baik, Tuan!”
Mereka
pun melawan, tapi kekuatan Mandangin jauh lebih dahsyat.
Bawahan 1: “Ampun, Mandangin! Kami
kapok!”
Bawahan 2: “Ya! Kami mengaku kalah.
Kami khilaf…Kekuatanmu memang tidak ada tandingannya, Mandangin.”
Tuman: “Hei, apa-apaan kalian?!”
Bawahan 1: “Sudahlah!Kami sudah
muak denganmu, Tuman!”
Bawahan 2: “Benar! Enyahlah kau
dari desa ini!”
Tuman: “Kurang ajar kalian…Cepat
atau lambat kalian akan menyesalinya!”
Tuman
pun pergi meninggalkan desa. Mandangin langsung menghampiri Kirana dan membuka
ikatannya.
Kirana: “Terima kasih, Mandangin.
Aku berhutang budi padamu. Andai aku tahu bagaimana cara untuk membalas jasamu.”
Mandangin: “Aku tahu.”
Kirana: “Eh?Bagaimana caranya,
Tuan?”
Mandangin
berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak cincin.
Mandangin: “Aku ingin kau menjadi
pendamping hidupku, Kirana. Would you marry me?”
Kirana: “Mandangin…..I—I do…” XDD
Mandangin dan Kirana pun menikah
dan memimpin Desa Perek Rango dengan baik. Nyai Rangkas dan Nenek Kiap pun
tinggal bersama Mandangin di desa itu. Sejak saat itu Tuman tidak pernah muncul
lagi. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Komentar
Posting Komentar