Dia, Sang Pengancam Bumiku
Sumber
daya yang melimpah di alam, memiliki daya tarik sendiri bagi manusia untuk
diambil, diolah dan digunakan. Jauh sebelum kita merasakan hidup di dunia ini,
manusia telah melakukan aktivitas tersebut, yaitu penambangan. Mereka yang
mencari dan mengambilnya dari perut bumi, kemudian diproses dan dikirim serta
dijualnya kepada masyarakaat dunia. Menjadi hal yang hebat dan luar biasa,
karena pada saat itulah orang baru mengetahui hasil galian bumi yang selama ini
memang ada tapi belum ada zaman manusia sebelumnya yang mengambil. Kebanggan
itu kemudian terus berkembang sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan
ilmu pengetahuan. Sehingga yang tadinya aktivitas penambangan hanya menggunakan
cara konvensional, yakni dengan alat dan tenaga yang terbatas juga wilayah yang
tidak besar. Kini memiliki teknik dan cara yang modern, jauh malah. Mulai dari
alat berat excavator besar, dump truck (yang bannya lebih tinggi
dari tinggi orang dewasa), dragline, bulldozer dan mesin-mesin raksasa
lainnya.
Yaps alat-alat itu memang dibutuhkan demi aktivitas
penambangan berjalan baik, akan bisa meraup harta karun bumi dalam jumlah
jutaan kali lipat cara konvensional, dengan cepat juga meningkatkan aliran dana
perusahaan ‘menjual banyak, untung banyak’. Tapi
apa yang terjadi jika penambangan terus berekpansi memperluas area tambang
dengan segelintir pasukannya yang banyak dan besar. Maka hancurlah bumi,
bayangkan bumi yang tadinya hijau yang dihuni oleh miliaran spesies dari
kingdom plantae dan animalia ‘lenyap’, karena penambangan membutuhkan tempat
yang semula hidup untuk dinonaktifkan. Sehingga hilanglah sebagian kecil
ekosistem bumi. Ekosistem kecil yang hilang itu juga akan menjadi besar, sangat
besar bahkan hilang jika penambangan terjadi dimana-mana. Sudah jelas bumi pun
terancam.
Semua
itu terjadi jika dan hanya jika pihak perusahaan tidak melakukan yang namanya
‘penanggulangan’ aktivitas tambang. Penanggulangan disini adalah suatu upaya
dimana lahan maupun limbah atau sisa produksi tidak atau jangan sampai
mencemari lingkungan apalagi merusak bumi dan ekosistem serta biomanya. Itulah
mengapa saat ini sangat gencar dengan istilah green industry atau bisa dibilang industri hijau, hijau yang
menggambarkan alam dan industri sendiri menginterpretasikan aktivitas manusia
yang dikenal merusak. Telah lama memang dikenal istilah tersebut, tapi hanya
segelintir perusahaan yang melaksanakannya, dengan alasan menambah pengeluaran,
karena ya memang relatif mahal bagi mereka. Saya beri contoh, dengan lahan
sebesar lahan tambang atau diibaratkan dengan sebuah gelas berdiameter 5
sentimeter yang berada di lapangan bola dunia, dengan gelas diasumsikan manusia
dan lapangan bola adalah lahan tambang. Maka akan sangat besar untuk
memperbaiki lahan dengan penanaman pohon kembali. Belum lagi maintenance setelah penumbuhannya.
Itu
baru dari segi lahan, belum dari segi produksi pengolahan tambang. Dengan
reaksi yang rumit dan beraneka ragam tentunya akan menghasilkan sebuah residue atau sisa dari hasil produksi, yang
orang awam tahu bahwa namanya sisa pasti tidak berguna dan merusak. Disini
apakah buangan itu tidak dimanfaatkan kembali atau direaksikan dengan zat
lainnya agar bisa lebih berguna tanpa sedikitpun dibuang kelingkungan. Jawabnya
ada di biaya ‘lagi’, karena olahan tambang dalam jumlah yang sangat besar
(jutaan ton bahkan triliunan liter) otomatis produk limbahnya juga sangat besar
dan untuk mengolah diperlukan biaya yang juga tak kalah besar.
Apa
yang terjadi jika perusahaan tambang melakukan salah dua dari sekian alternatif
penanggulangan diatas, bisa jadi mereka akan collapse dan jatuhlah. Yang dikenal dari pertambangan adalah gaji
yang super, tak tanggung-tanggung dengan karyawan fresh graduate hanya dalam beberapa tahun bekerja dapat menyanggupi
kehidupan pensiunan mereka nanti. Tapi ya mereka juga diberi tekanan yang ga
kalah supernya. Bisa-bisa untuk penanggulangan yang membutuhkan dana amat besar
akan mengkhawatirkan gaji karyawan dan segenap ‘rekan-rekan bisnis’ mereka.
Dulu
aku membenci mereka, mereka yang
menggantikan indahnya alam dengan uang banyak. Mereka yang sikut menyikut untuk
belajar apa itu tambang dan lulus hingga siap bekerja untuk meraup uang yang
sangat banyak, tanpa memperdulikan alam kita ini. Tapi tanpa mereka juga, kita
tak dapat menikmati kehidupan seperti ini, yang sehari-hari menggunakan bahan
galian tambang. Hanya saja dari mereka yang tidak menerapkan konsep green industry, karena tersendat biaya
yang gak kalah besar dengan pemasukan mereka. Makanya tak heran banyak perusahaan
yang langsung pergi dengan meninggalkan bekas yang sangat jelas dan mereka
itulah yang membuat bumiku semakin terancam. Terancam rusak yang nantinya akan
dirasakan oleh seluruh umat manusia. Bumi yang indah tetap akan indah jika
semua ikut peduli dan memelihara. Bumi yang indah tetap tak tergantikan dengan
uang, walau dengan rangkaian gunung Everest versi emas.
Komentar
Posting Komentar