The Real Mahasiswa, Lebih dari Sekadar Siswa
Itulah mengapa dinamakan
mahasiswa, terletak dari namanya juga sudah ada embel-embel maha. Disini maha
bukan hanya berarti luar biasa atau tidak biasa pada umumnya tapi memiliki arti
lebih dari sekadar siswa. Ya siswa yang pada umumnya hanya ditugaskan belajar,
menaati peraturan dan rajin lalalala. Tapi lain halnya dengan si maha ini,
tidak hanya itu yang mereka lakukan melainkan turut lebih menanam nilai-nilai
pada diri dalam bersosial, berhimpun dan berguna bagi nusa dan bangsa tentunya.
Tapi bagaimana hal itu bisa terwujud, sedang tidak ada parameter yang dapat
menjadi acuan. Parameter yang konkret-berdasarkan penelitian- adalah dengan
mengklasifikasikan mahasiswa dengan identitasnya. Apakah mahasiswa tersebut
dapat disebut the real mahasiswa atau hanya sekadar mahasiswa tapi “kerjaannya”
seperti siswa sekolahan. Tentunya dibutuhkanlah identitas tersebut
Identitas tersebut dapat
terangkum menjadi satu kata PoPoPe (Posisi, Potensi dan Peran). Jika ketiga
aspek tersebut belum dilakukan maka belum dapatlah mahasiswa tersebut mahasiswa
sungguhan. Dimulai dari Potensi, potensi adalah sesuatu yang ada di dalam diri
yang dapat dikembangkan. Perkembangan ini dapat diasah melalui 3 jenis
ke-skill-an yakni, Hardskill, softskill dan idealism skill (maksa-_-). Nah udah
pada tau nih kan ya hardskill itu materi dan hanya disimpan di otak saja.
Softskill adalah bagaimana dan proses penyampaian hardskill yang kita punya.
Sedangkan idealism adalah bagaimana kita mengevaluasi atau mengkritisasi
hal-hal berdasarkan ideology atau dasar dari nilai hidup kita.
Untuk posisi, bergantung jenis
kerangka acuan, bisa dari politik, bisnis maupun budaya setempat. Nah
difokuskan untuk mahasiswa didapat 2 golongan non profit organization dan non
government organization. Tapi ada juga academia yang disitulah posisi mahasiswa
menjadi masyarakat sipil yang terpelajar, special dari masyarakat biasa.
Kemudian lanjut peran adalah
akibat logis dari posisi dan potensi. Ada dua peran umum, pertama mendidik dan
menjadi generasi penerus bangsa dan pengembangan potensi Kedua adalah turun
kemasyarakat dan turut menyelesaikan masalah berdasarkan potensi.
Pada rekayasa hayati sudah jelas
bahwa mahasiswa tersebut sudah mengambil potensi pada keilmuan rekayasa hayati.
Tinggal dia memposisikan dirinya kepada masyarakat apakah dari ilmu yang telah
ia dapatkan ketika belajar dapat terealisasikan kepada khalayak masyarakat atau
tidak dan dari situlah peran mahasiswa rekayasa hayati akan timbul jika 2 jenis
peran umum tadi terwujud. Misal dengan menciptakan biofuel dari tanaman
transgenik yang memiliki efisiensifitas dan kemiripan struktur yang tinggi
terhadap motor berbahan bakar bensin. Sehingga terciptalah bahan bakar yang
lebih menguntungkan daripada bensin dan kawan-kawannya.
Komentar
Posting Komentar