Bincang-bincang
dengan T-Files
Senin, 25 November 2013, KM ITB dari
divisi BIB (Badan Implementasi Bisnis) mengundang alumni ITB yang telah sukses
menjalani bisnis di bidang teknologi. Sebutlah beliau Mitha, dari jurusan
oseanografi ITB. Saya memanggilnya Mitha, beliau membangun sebuah teknologi
ciptaannya sendiri dan kemudian membuat jadi sebuah bisnis technopreneur. Awalnya mengundang mereka adalah karena ingin
membahas lebih lanjut kenapa mahasiswa ITB yang hampir semuanya di bidang engineering mengambil sebuah bisnis
non-teknologi, mereka hanya membuat bisnis seperti kuliner, fashion, atau
bisnis yang telah dijalani oleh
masyarakat sekitar.
Mendengar pernyataan itu, kak mitha
menolak mentah-mentah, mengapa?. Ya pasti karena kita sendiri kan anak ITB
(Institut Teknologi Bandung) yang merupakan ‘anak teknologi’ yang memang
seharusnya jika bisnis juga mengandung unsur teknologi, bukan sebagai agen atau
broker tapi harus meng-create juga. “kalian bukan mahasiswa seperti biasa,
mental kalian telah dibangun dari awal kalian sekolah, seperti di SMP, SMA.
Kalian dituntut untuk menjadi yang terbaik dan terus terbaik, tapi kenapa
ketika sudah masuk ITB kalian menjadi orang-orang biasa pada umumnya, seperti
bisnis kaos-lah, atau apalah (mainstream).
Kalian adalah orang-orang hebat, sayang 4-5 tahun dibuang untuk mengurus
kalkulus, fisika sedangkan ilmu eksak seperti itu tidak diterapkan dalam
bisnis. Waktu kalian terbuang habis, musnah. Dari pada membangun bisnis bukan
dibidangnya lebih baik menjadi seorang pegawai sebutlah di Freeport yang memang
sudah jelas gajinya”. Ya begitulah kira-kira yang diucapkan kak mitha.
Dia juga sempat menjelaskan
perbedaan yang mencolok antara bisnis teknologi dengan bisnis non-teknologi.
Awalnya memang berat, sangat berat berbisnis teknologi, mereka yang menjalani
bisnis semacam kuliner telah lebih dahulu memulai sedangkan kak mitha masih
harus berkutat di lab demi membangun sebuah teknologi yang ia impikan. Dia
yakin disaat teman-teman sukses, dia juga akan cepat menyusul dan bahkan lebih
sukses ketimbang entrepreneur biasa.
Dia menjelaskan bahwa membuat semacam teknologi akan mengalamai pertumbuhan
eksponensial yang luar biasa, walaupun menunggunya juga luar biasa. Sedangkan
bisnis biasa tadi memang cepat untuk dibuat, tetapi setelah itu akan stagnan
dan pertumbuhan perusahaan mulai melambat. Tapi apabila keduanya jatuh,yang
lebih cepat adalah bidang teknologi.
Disinilah mental anak ITB yang perlu
dibangkitkan dan di implementasikan lagi kedalam sebuah bisnis. Hasil yang
besar tentu akan memunculkan resiko yang besar pula. Kemudian pada kesempatan
berbincang ada yang bertanya tentang pahitnya kak mitha membangun T-Files ini,
dia menjelaskan beliau sempat di maki, di bilang sok tahu dan tidak sopan oleh
dosennya. Finally beliau tetap tegar dan akhirnya bisa juga nyelesein proyek
itu sebelum lulus, karena dari tahun pertama dia sudah menyiapkan itu semua.
Kami (anak ITB) diberi arahan bahwa kami bukan anak biasa dan berada di kampus
yang tidak biasa juga (dalam artian hebat) harus memanfaatkan segala fasilitas
yang diberikan; internet ada, buku banyak, dosen ada, laboratorium juga ada,
tinggal pinjem deh.
“Kalian jangan menjadi orang biasa
di kampus yang luar biasa ini, percuma membawa
nama ITB jika kalian tidak mencerminkan kampus kalian sendiri” begitulah
kira-kira yang ia ungkapkan. Beliau juga memberikan panduan menjalankan bisnis.
“kalian tinggal siapin kertas, pulpen, komputer, internet, printer dan jadikanlah
proposal. Kirim ke lomba-lomba, syukur dapet modal. Kasih ke keluarga atau
teman yang berpotensi memberikan modal. Beri tahu dosen juga, selesai. Banyak
kok pemodal, dan mereka tidak susah dicari, tinggal temui dan beri proposal.”
Kak Mitha menjelaskan.
Saya sangat kagum dengan produk kak
Mitha yang merupakan turbin bertenaga air laut atas perusahaan T-Files (Technology files) yang ia dirikan.
Produknya juga telah dibeli oleh perusahaan besar bahkan BUMN. Perjuangan
beliau sangat keras, dia yang menunggu tahun berikutnya untuk masuk ITB tidak
menyianyiakan waktunya dan dapat membawa dirinya kepada kesuksesan. Ia bersama
13 orang temannya yang mendirikan itu, juga mempunyai sejumlah mahasiswa ITB
yang diangkat menjalani bisnisnya, sebutlah SME atau biasa disebut maganger’s T-Files yang sempat diundang
juga pada hari yang sama.
Begitulah kira-kira cerita saya yang
masih baru di kampus ganesha, beruntung sekali bisa bertemu langsung dengan kak
Mitha dan timnya. Semangat!! Dan terus bangkitkan ke-technopreneur-an kalian.
Terimakasih J
Komentar
Posting Komentar