Berprahara
Setegar
Pujangga Putra
Merah, merah
Adalah duka dalam derita
Berjuta jiwa berjuta nyawa
Merah
Mencapai hati menyerang nurani
Saat tragedi kemanusiaan dimulai
Tanjung Priok, Ambon dan Poso, trisakti ‘98
Tapi merah akan tetap teguh
Surabaya 10 November, Jogja 5 Maret,
Bandung Lautan Api
Adalah bukti penyebab merah masih mengalir
dalam denyut nadi pribumi
Merah adalah cinta, adalah amarah
Yang mengantarkan nyawa mallaby jendral
sekutunya bangsa jatuh ke neraka
Merah adalah darah, Sipadan Ligitan hilang BUMN
digadaikan
Darah mu adalah hitam
Birokrat, memakan uang rakyat, oknum
pejabat, tak punya hati nurani
Hitam
Adalah hasrat, adalah kepentingan, adalah
tawa diatas derita
Hitam, akulah yang kau sebut hitam itu
Akulah yang kau sebut keparat tak punya
nurani itu
Nurani
Apa kabarmu nurani
Masihkah ia hidup di negeri ini, ditanah
ini
Ketika budi pekerti hanyalah sampah
Masih bernafaskah hati nurani ini
Aku, Sang putih
Aku datang sebagai penopang merah yang kalah
Putih simbol perdamaian, simbol kesucian sebagai
dasar pijak kehidupan
Aku datang, lenyaplah gelapan
Tersisalah merah, kobaran gelora
Merah harus kusangga dengan putihku
Sehingga gelora merah tetap pada esensinya
Merah semangatmu, putih jiwaku
Indonesia bersatu
Tiada jalan bagi kita selain
Mari lah kita bersatu
W.R. Supratman tidak mengatakan
Bangunlah gedung-gedung pencakar langit
Bangunlah mall-mall di seluruh daerah
Tetapi beliau mengatakan, bangun lah
jiwanya
Bangunlah kekuatan dalam diri kita
Membangun kepribadian
Membangun kecerdasan bangsa
Baru setelah itu W.R. Supratman mengatakan
Bangunlah badannya
Mari bekerja keras
Mari berjuang tanpa batas
Tanpa mengenal henti dan putus asa untuk
mewujudkan Indonesia Raya
Raya berarti maksimal, maksimal dalam
segala hal

Komentar
Posting Komentar