Menjadi suatu yang lumrah apabila
kata ini diucapkan oleh seseorang karena dia tidak dapat mengajak orang lain
untuk mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan kelompok, tim,
komunitas, himpunan, organisasi atau suatu yang menyangkut orang banyak. Orang
seperti inilah yang disebut egois yang dia sendiri menganut paham egoisme.
Padahal ego sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti aku, diri
pribadi atau rasa sadar akan diri sendiri.
Rasa ego atau keakuan inilah yang membuat persepsi negatif dari
kebanyakan orang. Bahwa orang yang egois adalah orang yang sangat tidak
diinginkan dalam setiap lapisan masyarakat. Bisa dilihat apa yang akan terjadi
jika seorang yang memegang amanah adalah orang yang egois, orang yang mengemban
tugas adalah orang egois. Dia akan seenaknya saja menggunakan tahta atau posisi
yang dia punya untuk kepentingan pribadinya bukan untuk kelompok. Tak dapat
dipungkiri bahwa setiap elemen keorganisasian ataupun suatu kumpulan massa
merupakan elemen yang bertanggung jawab atas kumpulan itu sekalipun anggota.
Tapi
wajar bila seorang egois, sangat tidak mungkin jika orang tidak egois. Karena
setiap diri ini adalah pribadi, artinya tetap ada suatu hal yang harus
dilakukan untuk dirinya, yang ada hanyalah level atau tingkatan keegoisan
seseorang. Tidak ada segala hal yang fana di bumi ini yang mutlak, karena ada
berbagai faktor yang mempengaruhinya termasuk egois. Kita sebagai sesama
manusia sering menganggap bahwa si A itu egois karena dia sedang melakukan
sesuatu untuk dirinya begitu juga si B, C dan seterusnya dimana orang-orang itu
juga sedang dibutuhkan pada waktu tesebut. Tapi tidakkah engkau melihat di
suatu sisi jauh di pelosok point of view
sana, bahwa ada suatu hal terkait apapun yang mereka kerjakan? Demi suatu
tujuan atau visi yang ia punya. Mungkin saat itu orang yang dibilang egois tadi
sedang berada dalam keadaan penting dan mendesak untuk hal lain, mungkin juga
ada suatu tujuan pendek atau panjang yang ingin segera ia raih atau mungkin
saja ia sedang ingin beristirahat karena ia ingin tubuhnya fit untuk bergabung
kembali dengan kegiatan yang engkau adakan. Tidakkah kita melihat itu kawan?
Terkadang kita yang seperti itulah yang egois, kita yang menganggap mereka
egois, kita yang selalu ingin mementingkan event
atau acara atau kepentingan yang kita pegang dibantu oleh orang yang kita ajak,
tapi di satu sisi kau tidak paham dengan apa yang ada di benaknya, di jiwanya
dan di raganya. Bisa jadi yang ingin ia kerjakan sekarang memang untuk dirinya
tapi dari dirinya itu mungkin bisa jadi untuk kepentingan bangsa kita dan
negara kita, seperti menjadi pebisnis dunia yang memegang peranan ekonomi besar
di dunia, jadi seorang cendekiawan dunia dan balik lagi untuk membantu
Indonesia dan mungkin bisa jadi pimpinan negara Indonesia yang memiliki
kriteria terbaik untuk perbaikan bangsa dan negara ini atau hal lain yang
seperti itu. Bukankan itu bukan suatu yang egois karena dia telah berjuang
untuk suatu kumpulan manusia yang sangat besar, Indonesia. Itulah sebabnya ku
bilang bahwa Every people in the world is
egoist and the diferentiate is only
from level of each egoistic. Jadi buatlah pandangan seluas mungkin, seluas
hamparan bumi dan langit agar tidak terjadinya penyempitan pemikiran dari suatu
fakta yang diterima dan buatlah segala kemungkinan yang mungkin terjadi. That’s it!!
Komentar
Posting Komentar