JOKOWI, TRENDSETTER PEMIMPIN MASA DEPAN
Oleh:
Ganjar Abdillah Ammar *)
Siapa
sekarang yang tidak kenal dengan Jokowi, yang namanya sedang tenar di ranah
politik Ibukota Negara. Ya dia yang memiliki nama lengkap Joko Widodo telah
melahirkan banyak prestasi selama masa jabatan menjadi walikota Solo. Menjadika
Kota Solo sebagai pusat seni dan budaya yang mulai menarik perhatian dunia. Tak
heran jika turis asing maupun lokal berkunjung kekota yang tertata rapih itu. Lebihnya
ia telah menjadi pilihan walikota terbaik sedunia peringkat ketiga, setelah
walikota Bilbao (Spanyol) dan walikota Perth (Australia). Hingga akhirnya
beliau dapat menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan pasangannya Basuki oleh partai
PDIP.
Lantas,
apa yang bisa membuat beliau seperti ini, yang telah menggeser kepemimpinan ala
betawi Foke. Dia yang berasal dari keluarga sederhana, seorang pengusaha dan
sekarang pemimpin rakyat, tidaklah menjadikan dirinya sombong. Dia merasa biasa
saja, meskipun banyak penghargaan yang di berikan. “….. Saya hanya bekerja
karena memang disuruh bekerja oleh masyarakat” Ujar Jokowi. Ia juga mengatakan Semua
penilaian itu berasal dari Masyarakat, apa yang telah dilakukan sekarang akan
dilihat sekecil apapun hasilnya.
Kepemimpinan
yang baru ini menjadikan Jokowi menjadi seorang figur utama dalam pemerintahan
Ibukota Negara. Dengan memakai pakaian sederhana, kemeja kotak-kotak merah dan
sikapnya yang tenang dalam menyelesaikan persoalan rumit. Gayanya yang
“flamboyan” tetapi cepat dan tegas membuat reputasi beliau terus meningkat. Tak
tanggung-tanggung, Jokowi langsung terjun ke dalam masyarakat dan langsung
mengambil keputusan. Aksi blusukan ke kampung sengaja di lakukannya demi
mengetahui bagaimana kondisi dan masalah yang wajib diselesaikan. Sampai-sampai
aksi masuk ke gorong-gorong juga ia lakukan.
Sikap seperti
inilah yang disebut dengan Trendsetter atau
pembuat tren, meskipun ini tidak dibuat-buat tetap saja beliau dapat
mengubah persepsi masyarakat mengenai pemimpin. Pemimpin yang tadinya hanya
dikenal duduk di kantor, menerima problem
masyarakat, mengadakan rapat dan merundingkannya, tapi tidak buat Jokowi. Ia
langsung melihat masalah dan melakukan sidak ditempat. Sekarang banyak yang meniru
kepemimpinan ala Jokowi, sebut saja SBY. Presiden RI yang sedikit demi sedikit
mulai meniru dengan terjun dan diskusi dengan masyarakat. Tak dapat dipungkiri,
Jokowi memiliki integritas dan karisma yang luar biasa dengan pemimpin yang
lebih tinggi pun mau meniru sikap merakyat Jokowi.
100 hari
kepemimpinan Jokowi-Ahok , telah banyak menuai sanjungan dari berbagai pihak.
Mulai dari rakyat, pemerintah, ICW (Indonesia
Corruption watch) sampai media pun turut memberikan penghargaan. Karena
Jokowi, mereka (baca: media) tetep dapat hidup dan meraup keuntungan besar.
Ratusan berita telah disiarkan mengenai aksi hebat yang dilakukan pasangan
Jokowi-Ahok. Dibuktikan dengan para pembaca yang mengatakan bahwa mereka senang dengan berita terkait Jokowi,
yang beritanya cenderung lucu dengan kepemimpinannya yang mengesankan. Tak
heran jika media terus melirik mereka karena tidak hanya sebagai fungsi kontrol
pemerintahan, tapi juga memberikan info yang segar bagi pemirsa.
Style (gaya) yang dimiliki Jokowi telah
banyak mengundang perhatian publik, disamping terkesan merakyat juga sikapnya
yang tegas dan tidak terlalu berpolitik. Andaikan tidak hanya di Jakarta saja
keberadaannya, melainkan tiap-tiap provinsi menyumbangkan Jokowi-Jokowi
lainnya, pastilah Indonesia akan berubah. Semula yang berada di titik nadir,
mulai dari kemelaratan, kesenjangan berbagai bidang sampai kesehatan juga
pendidikan, dan kini Indonesia sudah mulai bangkit. Seperi korupsi yang sedikit
demi sedikit mulai terkuak sampai munculnya tokoh-tokoh baru yang hebat,
seperti Jokowi itu
Setiap orang
memang memiliki ciri khas atau gaya tersendiri dalam kepiawaiannya memimpin,
tapi bagaimana ciri khas tersebut dapat berpengaruh besar terhadap pekerjaan
dan seluruh lingkup kehidupan masyarakat. Tulus, tegas dan sigap, itulah
seorang Jokowi, Trendsetter pemimpin
masa depan.
Sumber referensi : Kompas, Rabu 6 Januari 2013
Komentar
Posting Komentar