SANTOUR
–SANTOLO TOURING-
Kebetulan
kuliah, serba-serbi tugas dan UTS ataupun UAS di semester 4 telah berakhir,
teman-teman mengajakku turut serta berwisata ke pantai. Lantas aku pun menyetujui
ajakan tersebut karena sudah tak ada apa-apa lagi di kampus selain menunggu acara
Ospek jurusan ku. Selang beberapa hari kemudian pergilah datanglah Wahyu
bersama temannya, Aziz, ternyata dia juga mau ikut berhubung tidak ada kerjaan
katanya. Rencana ke Pantai pun asal-asalan tak jelas atas dasar apa kita ke
pantai dan aku juga hanya ikut-ikutan dan tak terlalu mengurus kepergian dan
destinasinya. Tibalah aku mendengar bahwa kita akan ke pantai Santolo, terasa
asing di telinga tapi tak apa karena niat aku adalah refreshing dan jalan-jalan. Walaupun tidak on Time dalam keberangkatan tetap jadi kita berlima ke pantai
Santolo; Wahyu, Aziz, Abi, Shandy dan Aku. Keberangkatan dimulai dari asrama
TB4, asrama kampus ITB Jatinangor yang terletak di sisi utara kompleks kampus
menuju pusat kota Jatinangor, ke jalan sayang dan masuk ke jalan rancaekek
terus mengikuti jalan ke arah Garut. Tak disangka antara kampus ITB Jatinangor
dengan lokasi pantai santolo memakan waktu yang sangat lama dari pukul 09.00
berangkat sampai disana pukul 16.00 dengan perkiraan waktu istirahat 2 jam (karena
bolak balik istirahat). Berikutlah kisah sepanjang perjalanan itu.
Sepanjang perjalanan
banyak tempat dan suasana baru yang aku dan teman-teman temui mulai dari PLTP
(Pembangkit Listrik Tenaga Panas) Kamojang, lokasi perlindungan rajawali, jalan
menanjak 45o ditambah belokkan curam, taman indah di pinggir gunung,
warung istirahat paling baik sedunia sampai tukang cincau di masjid kota Garut.
Di tiap lokasi itu kami sempat berhenti untuk istirahat, memandangi dan berfoto
mengabadikan momen langka. Di PLTP Kamojang aku sangat takjub karena
benar-benar ada pabrik di tengah-tengah hutan besar yang jarang penghuninya.
Ditandai dengan keberadaan pipa besar juga panjang ditambah asap-asap yang
muncul disekitar menguatkan tekad kami untuk berhenti. Sempat ku lirik bahwa
jurusan ku –Rekayasa Hayati- tidak jauh berbeda dengan pabrik pada umumnya
termasuk PLTP ini, jadi aku membayangkan sekilas jika aku magang atau kerja
praktek ataupun kerja sesungguhnya di tempat ini, sepi, sejuk walaupun tidak
ada hubungannya dengan yang aku pelajari. Setelah puas berfoto kami langsung
meninggalkan tempat yang seru tadi dan di jalan melihat lokasi perlindungan
rajawali tapi tak sempat berkunjung.
Sepanjang perjalanan
banyak tempat dan suasana baru yang aku dan teman-teman temui mulai dari PLTP
(Pembangkit Listrik Tenaga Panas) Kamojang, lokasi perlindungan rajawali, jalan
menanjak 45o ditambah belokkan curam, taman indah di pinggir gunung,
warung istirahat paling baik sedunia sampai tukang cincau di masjid kota Garut.
Di tiap lokasi itu kami sempat berhenti untuk istirahat, memandangi dan berfoto
mengabadikan momen langka. Di PLTP Kamojang aku sangat takjub karena
benar-benar ada pabrik di tengah-tengah hutan besar yang jarang penghuninya.
Ditandai dengan keberadaan pipa besar juga panjang ditambah asap-asap yang
muncul disekitar menguatkan tekad kami untuk berhenti. Sempat ku lirik bahwa
jurusan ku –Rekayasa Hayati- tidak jauh berbeda dengan pabrik pada umumnya
termasuk PLTP ini, jadi aku membayangkan sekilas jika aku magang atau kerja
praktek ataupun kerja sesungguhnya di tempat ini, sepi, sejuk walaupun tidak
ada hubungannya dengan yang aku pelajari. Setelah puas berfoto kami langsung
meninggalkan tempat yang seru tadi dan di jalan melihat lokasi perlindungan
rajawali tapi tak sempat berkunjung.
Seperti biasa
namanya gunung memiliki jalan yang berkelok tajam, tanjakan dan berlubang, dan
karena kami memutuskan lewat jalan yang asri bukan lewat kota maka kami terima
semua itu. Tapi yang aku tak percaya adalah kami menemui suatu jalan yang
sangat menanjak, berlubang dan berkelok sangat curam sehingga Azis dibantu oleh
pengendara motor lain yang kebetulan lewat menuju ke atas. Pengendara motor itu
pasti sudah profesional dan menguasai medan kataku. Tanpa perbekalan matang malaya
aku membeli pisang di sebuah warung kecil dan murah sekali kawan sekilo hanya
lima ribu, lumayan untuk di perjalanan sebelum makan siang. Setelah melewati
medan yang cukup keras menurutku tak hentinya kami melanjutkan dan bertemulah
kami di salah satu masjid pinggir kota Garut bersamaan dengan waktu zuhur.
Salat dan beristirahatlah kami di sana sembari meminum es cincau yang ditraktir
Shandy. Sejenak percakapan dan senda gurau kami lantunkan demi tercapainya
kembali energi yang hilang.
Lanjut pergi dan sekitar jam setengah 2 kami istirahat untuk kesekian kali, kali ini adalah karena mabuk dan lapar, lebih tepatnya mabuk karena lapar. Tak usah banyak basa basi di warung aku langsung memesan makanan, tak ada yang paling enak pada situasi seperti ini selain Indomie, lantas aku pesan itu 2 porsi ditambah nasi. Awalnya aku hanya bilang “Ada nasi a?” dan ternyata ada langsung diberikanlah itu kepada kami. Alhamdulillah dan sangat beruntung mereka memberi nasi gratisan padahal aku sudah mengambil banyak nasi dari mereka lebihnya lagi harga 2 porsi Indomie hanya 8 ribu rupiah. Sangat terbayar, lantas aku pun menambah membeli gorengan buat bersama-sama mumpung murah kataku. Setelah kenyang dan pulih lanjutlah kami menuju Santolo, awalnya kami bimbang karena melihat waktu dan peta elektronik (Google Maps) masih jauh, sekitar ½ dari perjalanan total. Apakah mau kembali pulang tidak jadi ke lokasi atau menginap di sana atau kembali pulang di malam hari. Sedangkan estimasi sampai adalah jam 5 padahal inginnya adalah berlama-lama d isana tapi ternyata Aziz ada kuliah di pagi hari (karena beda kampus, Telkom) jadi kita memutuskan tidak menginap dan pulang malam. Pertanyaannya adalah sanggupkah kami pulang malam dengan kondisi lelah, jalan gelap dan dingin sekali. Langsung aku kembali mengingatkan tujuan kita ke sana apa, yaitu melihat pantai, jika sekarang kita mundur untuk pulang artinya tujuan kita tidak tersampaikan jadi sampai saja dulu di sana, pulangnya belakangan. Tapi pilihan lain tidak mungkin juga pulang keesokan hari jadi keputusan kami tetap melanjutkan dan pulang sesegeranya.
Keputusan
didapat, teruslah kita ke lokasi dengan laju yang lebih cepat tidak ada
istirahat lagi dan benar-benar mengejar waktu. Finally sampailah kami ke pantai Santolo pada pukul 4 sore, 1 jam
lebih awal dibanding estimasi. Bahaya, memang bahaya kalo dilihat karena dengan
medan belum dikuasai kami melajukan motor dengan cepat, Supra X ku pun melaju
sampai 100 km/jam. Tapi Alhamdulillah masih diberi rahmat oleh Allah SWT untuk
dapat sampai dan menikmati tujuan kami, Santolo.
Perlu
diketahui, tidak ada yang spesial dari Santolo seperti pada biasanya pantai ada
pasir, laut, ombak bagian menjorok keluar atau ke dalam daratan, angin, sampah
dan manusia yang berserakan. Bedanya adalah kepergian kali ini bersama
teman-teman, kalau boleh jujur sangat jarang aku berkelana seperti ini bersama
teman-teman biasanya sama keluarga minimal sama kakak. Betapa manjanya bukan
diriku. Perjalanan dan liburan bersama teman benar-benar baru aku rasakan
semenjak semester ini, semester 4 dan memang asyik sekali terlebih perjalanan
kami yang kurang lebih menempuh 500 km. It’s
so amazing, belum pernah mencetak rekor sejauh itu bersama motorku. Balik
lagi ke topik pantai, kami pun menikmati indahnya pantai aku kurang menyukai
pantai dibandingkan gunung karena satu hal, lebih monoton karena sangat sedikit
variasi makhluk hidup yang ada. Jadi aku biasa saja ketika sampai sana,
menemani teman-teman yang sedang khidmat menikmati dan berfoto ria. Cuma 1.5
jam kami berada di sana dan langsung pergi lagi untuk pulang tanpa membeli atau
belanja apapun karena karcisnya sendiri mahal –itu karena pungli. Terimakasih
buat Abi dan Aziz yang telah mentraktir karcis jasamua takkan ku lupakan.

Baru Beranjak sebentar dari pantai magrib pun berkumandang dan kami lekas siap salat. Setelah itu perjalanan sesungguhnya baru terasa, suasana yang mencekam, dingin dan gelap menemani kami semua pada saat itu. Dengan formasi 2-1-2 insyaallah aman dari segala bentuk begal dan ketertinggalan. Formasi itu adalah formasi bonceng dengan aku di bagian tengah karena sendiri. Serius dan lelah juga mulai menghampiri, tanpa istirahat lama sepanjang perjalanan pulang karena target maksimal sampai asrama dimana asrama tutup jam 11. Kali ini kami melewati kota Garut bukan lewat gunung tadi karena sudah gelap, sepi dan medan yang jelek sedangkan di kota tidak. Akhirnya sampai juga ke Rancaekek dalam waktu 4 jam, untuk mencari makan malam kita dan rasa lelah pun makin menjadi ditambah makanan banyak yang habis dan jadilah kami makan nasi goreng 11 ribu rupiah. Selesailah petualangan kami pada saat itu dan berpisahlah antara Aziz dan Wahyu dengan aku, Shandy dan Abi. Karena beda arah yang satu ke Bandung satunya lagi ke asrama ITB. Menyenangkan dan mengesankan dari pagi sampai malam beraktivitas seperti ini, benar-benar tak terbayang sebelumnya. Terimakasih sobat-sobat, Abi, Aziz, Shandy dan Wahyu, kita keren!
Lebih terlihat
touring ketimbang berwisata :)


Komentar
Posting Komentar